Tampilkan postingan dengan label mer ren ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mer ren ibrah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2009

Syarat Agar Bebas Berbuat Maksiat

Silakan ambil ibrah dari kisah berikut...

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang menemui Ibrahim bin Adham r.a. dan berkata, “Ya Aba Ishak! Saya ini suka melakukan dosa. Tolong dong, ada tips nggak biar saya bisa nggak maksiat lagi.”
Mendengar hal ini, Ibrahim bin Adham r.a. pun berkata, “Jika bisa memenuhi lima syarat berikut ini, kamu bebas untuk melakukan perbuatan maksiat.”
“Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak?” Lelaki itu tak sabar mendengar berita gembira itu.”

“Syarat pertama,” Ujar Aba Ishak, “jika kamu ingin bermaksiat pada Allah, jangan mengkonsumsi rezeki-Nya.”
Lelaki itu bingung dan berkata, “Lha, terus saya mau makan apa? Kan semua ini adalah rezeki dari Allah.”
“Kalau begitu, apa pantas kamu makan rezeki-Nya sedang kamu melanggar perintah-Nya?”

“Oke deh, syarat keduanya apa?”
“Kalau kamu mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya.”
“Hah? Waduh. Terus aku mau tinggal di mana? Bumi dan seisinya ini kan milik Allah.”
“Ya Abdallah, mikir dong, apa kamu pantes makan rezki Allah dan nge-kos di bumi-Nya sedangkan kamu bermaksiat pada Allah.”

“Ya... iya deh. Terus syarat ketiganya apaan?”
“Kalau kamu mau bermaksiat kepada Allah, tapi juga ingin memakan rezki-Nya dan tinggal di tempat-Nya, bermaksiat-Nya di tempat yang nggak diliat-Nya aja.”
“Ya Ibrahim. Ini nasehat macam apa? Mana mungkin saya ngumpet di tempat yang tidak dilihat-Nya.”

“Nyerah deh. Syarat keempatnya apa?”
“Kalau malaikat maut datang menjemput kamu, bilangin ke dia, “nanti aja matinya. Saya masih mau tobat dan beramal saleh dulu.””
“Ya Ibrahim, mana mungkin malaikat mau nurut omongan saya.”
“Lha, kalo kamu sadar bahwa kematian nggak bisa ditunda, terus jalan apa yang bisa membuat kamu keluar dari murka Allah?”

“Ya sudah, sekarang syarat kelimanya.”
”Nanti di akherat, kalau malaikat Zabaniyah datang untuk membawa kamu ke neraka, jangan ikut sama dia.”
“Ya Aba Ishak. Mana mungkin malaikat Zabaniyah menerima keberatan saya.”
“Kalau begitu, gimana lagi supaya kamu bisa selamat dari murka Allah?”
Lelaki itu kemudian menangis. “Ya Ibrahim, cukup ... jangan kau teruskan lagi. Saya akan bertaubat nasuha kepada Allah.”
Lelaki itu menepati janji. Semenjak itu ia bertaubat dan menjalankan perintah Allah.
»»  read more

Rabu, 11 November 2009

Jalan Kepayahan

Panggilannya Pak Soma. Usianya sekitar 60-an. Saya pertama kali mengenalnya sejak pindah rumah ke kampungnya, persis dekat rumahnya. Saat itu kami berdua sama-sama menunaikan shalat magrib berjamaah. Dari guratan wajahnya, ia tampak seorang yang tegar.
Awalnya, saya melihat Pak Soma biasa-biasa saja. Memang, ada satu hal yang membuat siapapun trenyuh. Ya, ini karena secara fisik Pak Soma bukanlah manusia sempurna. Ia seorang yang cacat. Salah satu kakinya buntung dan hanya tinggal seperempatnya. Karena itu, kemana-mana ia bergantung pada kedua tongkatnya.
Sebetulnya ada banyak orang yang senasib dengan Pak Soma. Namun, mungkin tidak banyak orang cacat yang taat beribadah, termasuk tak pernah ketinggalan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid, seperti Pak Soma. Padahal jarak rumahnya ke masjid cukup jauh, hampir setengah kilometer. Yang membuat ia semakin luar biasa, dengan melepas tongkatnya, ternyata ia shalat tetap sambil berdiri, tentu dengan satu kaki. Ia tidak pernah shalat sambil duduk. Bayangkan, dalam salat berjamaah di masjid itu, berdiri dan rukuk satu rakaat saja Pak Soma kadang membutuhkan 2-3 menit, apalagi imamnya ternyata bacaannya sering panjang-panjang. Belum lagi ia dikenal rajin melakukan shalat-shalat nafilah dan shalat-shalat sunnah lainnya: tahajud, dhuha, hajat, dll; juga dengan satu kaki.
Saat saya tanya, mengapa tidak salat sambil duduk saja, toh secara syar’i dibolehkan karena ada uzur. Apalagi berdirinya Pak Soma dalam shalat juga kadang tidak selalu stabil; kakinya tampak sering bergetar dan goyah, terutama saat harus berdiri agak lama. Namun, dengan mantap Pak Soma menjawab. “Saya ingin, kepayahan saya dalam mendirikan shalat menjadi bukti kesungguhan saya dalam beribadah kepada Allah, yang akan saya tunjukkan saat menghadap kepada-Nya di Akhirat kelak.”
Subhânallâh! Betapa luar biasanya kata-katanya yang sebetulnya sederhana ini. Bagaimana tidak! Di tengah-tengah kebanyakan orang saat ini ingin mencari berbagai kemudahan, termasuk dalam ibadah, masih ada orang yang menempuh ’jalan kepayahan’. Pak Soma adalah salah satunya.
Yang semakin membuat saya takjub, ternyata Pak Soma harus kehilangan satu kakinya juga karena ia menempuh ’jalan kepayahan’ itu. Saat itu, sekitar sepuluh tahun lalu, sambil berlari secepat kilat, ia berupaya keras menyelamatkan seseorang yang hendak tersambar kereta api. Ia berhasil, meski harus dengan berguling-guling. Namun, ia gagal menyelamatkan dirinya dan harus kehilangan satu kakinya karena tersambar oleh kereta api tersebut.
*****
’Jalan kepayahan’ sebetulnya merupakan tradisi para salafush-shâlih. Bahkan jalan inilah yang sejak awal selalu dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. dan para Sahabat beliau. Baginda Rasul, misalnya, dikenal selalu melewati malam-malamnya dengan shalat malam. Dalam banyak riwayat ditegaskan, kaki beliau sering bengkak-bengkak karena seringnya beliau berdiri lama dalam shalat-shalat malamnya. Saat Ummul Mukminin Aisyah ra. bertanya, mengapa beliau sampai harus bersusah-payah seperti itu, padahal beliau ma’shûm (terpelihara dari dosa), sambil tersenyum beliau malah balik bertanya, “Wahai Aisyah, tidak sepantasnyakah aku menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya dengan semua itu?” (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).
Tentu tidak hanya dalam beribadah. ’Jalan kepayahan’ itu pula yang ditempuh Baginda Rasulullah saw. dalam sebagian besar episode dakwahnya. Betapa sering beliau ’memilih’ untuk dicibir, dihinakan, dicaci-maki, dilempari dengan kotoran dan batu, bahkan tak jarang diancam untuk dibunuh sebagai konsekuensi dari kesungguhan dan keistiqamahan beliau dalam dakwahnya. Saat orang-orang kafir sudah hampir putus-asa menghalangi dakwah, melalui Paman beliau, mereka kemudian menawari beliau harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, juga wanita-wanita cantik terpilih. Namun, semua itu tak membuat hati beliau luruh sedikit pun. Beliau tetap bergeming. Yang terucap dari lisan beliau yang mulia malah sebuah kalimat terkenal, “Paman, andai mereka sanggup menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan pernah melakukannya, hingga Allah memenangkan agama-Nya atau aku mati karenanya.” (HR Ibn Hisyam).
’Jalan kepayahan’ pula yang ditempuh oleh para Sahabat beliau. Bilal bin Rabbah, misalnya, dalam keadaan punggungnya telanjang tanpa baju, rela dijemur di atas pasir, di bawah terik matahari yang menyengat, lalu ditindih dengan batu. Yasir rela dijerat lehernya dan Sumayyah (istrinya) rela tubuhnya ditusuk dengan tombak hingga keduanya harus kehilangan nyawanya. Mushab bin Umair rela meninggalkan harta dan kemewahan serta memilih hidup menderita. Hampir semua Sahabat Rasulullah saw. tak ragu untuk ’menggadaikan’ sebagian besar (bukan sebagian kecil) waktu, tenaga, harta bahkan nyawa mereka. Semua ’jalan kepayahan’ ini mereka tempuh tidak lain demi dan untuk dakwah.
*****
Bagaimana dengan kita? Jujur, kita masih menimbang-nimbang saat mengeluarkan uang 100,000 rupiah untuk infak dakwah, tetapi selalu begitu gampang dan tak berpikir panjang saat membelanjakannya di supermarket untuk barang yang kadang tak terlalu dibutuhkan. Jujur, seperempat jam sering terasa lama untuk berzikir, namun terasa amat pendek untuk tiduran dan berleha-leha. Jujur, setengah jam sering terasa sangat membosankan saat membaca al-Quran, namun terasa sangat menyenangkan saat membaca koran dan nonton bola di televisi. Jujur, dua jam dalam halaqah (meski hanya seminggu sekali) sering terasa menjemukan, namun terasa kurang untuk membaca novel-novel best seller (meski ratusan halaman). Jujur, kita sering merasa susah merangkai kata untuk berdakwah, namun begitu mudah mencari bahan obrolan saat bertemu teman. Jujur, kita sering kesulitan mencari alasan untuk bolos kerja di kantor, tetapi begitu mudah mencari alasan untuk bolos halaqah. Jujur, hujan besar dan lebat sering tak menyurutkan langkah kita untuk meraih target dalam bisnis, tetapi hujan kecil telah cukup menjadi alasan untuk menghentikan langkah kita demi menunaikan amanah dakwah. Jujur, kita sering merasa payah saat ada taklif dakwah, tetapi sering begitu gampang mengiyakan panggilan untuk mengisi acara yang mendatangkan uang.
Jujur, meski kita sering mengklaim Rasulullah saw. adalah teladan kita satu-satunya, namun satu-persatu pula kita tinggalkan keteladanannya. Astagfirullâh al-‘Azhîm! [] Arief B Iskandar

sumber : majalah al wa'ie halaman 36 bab Ibrah edisi bulan November 2009
»»  read more

Senin, 26 Oktober 2009

kisah nyata, cerita mengenai seorang ibu dan seorang anak

Jakarta , Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun
yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau
keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini
izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit
di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit
yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan
sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya
ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”. Sayapun
menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya
membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya” Dokter
itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.” “Memang harganya berapa
dok?” Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah
sekali suntik.” “Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik,
dok? Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh
enam juta, dok?” Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara
bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit
isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit
istri saya segera ditemukan.” “Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami
bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri
Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati
memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan
coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang
ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku
mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti
bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun
mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau
balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga
Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah
terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya
Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di
leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah
kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan
istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang
miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya
Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang
hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP,
sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku
kualat…” Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku.
Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang
mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan
Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh
keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini
karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki
itu.” Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana
ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan
menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya
“Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh
lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu
sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang
ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya
menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu
saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu
saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.” Suasana hening
sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya
berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat,
aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu
nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.” Setelah
memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan
dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil
mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit
isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan
panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi
dari perut ibu.” Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat
erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan
membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri
“Ibu, I miss you so much.”

sumber : http://jamil.niriah.com/2008/03/14/ibu-i-miss-you-so-much/
»»  read more

Rabu, 09 September 2009

KISAH ISTRI KECANDUAN CHATING

Kadang jika kita hanya sekedar menyampaikan untaian nasehat, mungkin sebagian orang belum tersentuh. Namun tatkala dikemukakan sebuah kisah, barulah hati kita mulai tersentuh dan baru bisa menarik pelajaran. Semoga kisah berikut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.



Kisah Bincang-bincang Seorang Istri di Dunia Maya (Sumber: Jilbab.or.id)
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’I … Ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah di sini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya. Di rumah ia pun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya di mana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon. Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya ia pun mahir bermain internet. Yang akhirnya ia pun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah, … hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah. Sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya, ia akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting, … sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk di internet. Sang istri pun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian, … ia merahasiakan dengan siapa ia chatting .. khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi…. Sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lelaki tersebut.
Fitnah pun semakin terjadi di dalam hatinya, .. ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda dan sejuta keindahan lainnya di mana setan telah mengukir begitu indah di dalam lubuk hatinya.
Duhai fitnah asmara semakin membara, … ketika ia chatting lagi sang laki-laki itu pun tambah menggodanya, .. ia pun ingin bertemu empat mata dengannya. Gembiralah hatinya, .. ia pun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa. Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran, lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab. Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya.
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya. Sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya. Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar, lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya ia pun meminta cerai dari suaminya. Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki tersebut yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu. Karena terus didesak sang istri akhirnya ia pun dengan berat hati menceraikan istrinya. Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu. Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya ia pun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda. Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini, … dengan tegasnya si lelaki itu berkata, “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami. Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia kepadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!”
Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini, .. sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya…. Ia pun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu … mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.


Jika seseorang betul-betul merenungkan kisah di atas, tentu saja dia akan menggali beberapa pelajaran berharga. Itulah di antara bahaya chatting dengan lawan jenis yang tidak mengenal adab dalam bergaul. Lihatlah akibat chatting dengan lawan jenis, di sana bisa terjadi perceraian antara kedua pasangan tersebut disebabkan si istri memiliki hubungan dengan pria kenalannya di dunia maya.
Di pelajaran lainnya adalah hendaknya selalu ada pengawasan dari kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Kepala keluarga seharusnya dapat memberikan batasan terhadap pergaulan anggota keluarganya termasuk istrinya, apalagi dalam masalah penggunaan internet. Inilah pelajaran yang mesti diperhatikan oleh seorang suami sebagai kepala keluarga.
Adapun untuk anggota keluarga yaitu istri dan anak, hendaklah mereka selalu merasa mendapatkan pengawasan dari Allah subahanahu wa ta’ala. Hendaklah mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala yang nampak maupun yang tersembunyi. Sehingga Allah mengetahui segala apa yang mereka lakukan. Karena Allah-lah Maha Mengetahui dan Maha Melihat dengan sifat kesempurnaan. Tentu saja sikap selalu merasa penjagaan dari Allah ini bisa muncul jika seseorang telah dibekali dengan aqidah dan tauhid yang benar. Itulah pentingnya pendidikan aqidah pada keluarga.

Selain itu pula, istri mesti diluruskan tatkala dia berada dalam kekeliruan. Istri mesti diluruskan dengan lemah lembut dan harus berhati-hati dalam menasehatinya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

"Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk.Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka dia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah yang baik terhadap wanita." (HR. Bukhari no. 5184)
Juga perlu diketahui bahwa kerusakan yang terjadi akibat chatting di atas bukanlah bisa terjadi hanya pada wanita. Kerusakan semacam itu pun sebenarnya dapat terjadi pada laki-laki. Oleh karena itu, perlu sekali diberitahukan kepada pembaca sekalian beberapa adab-adab yang mesti diperhatikan ketika bergaul dengan lawan jenis. Karena tidak memperhatikan beberapa adab berikut inilah terjadi keretakan rumah tangga atau mungkin bagi yang belum menikah pun bisa terjadi kerusakan dengan terjerumus dalam perantara-perantara menuju zina atau bahkan bisa terjerumus dalam zina. Na’udzu billahi min dzalik.


Beberapa Adab yang Mesti Diperhatikan dalam Pergaulan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)
Pertama, menjauhi segala sarana menuju zina
Allah Ta’ala berfirman,


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’ [17] : 32)
Kedua, selalu menutup aurat
Allah Ta’ala berfirman,


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)
Ketiga, saling menundukkan pandangan
Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)
Keempat, tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Kelima, menghindari bersentuhan dengan lawan jenis
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)
Keenam, tidak melembutkan suara di hadapan lawan jenis
Allah Ta’ala berfirman,


يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan pembicaraan sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat) dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32). Perintah ini berlaku bukan hanya untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga berlaku untuk wanita muslimah lainnya.


Lalu bagaimana dengan adab chatting dengan lawan jenis? Hal ini dapat pula kita samakan dengan telepon, SMS, pertemanan di friendster dan pertemanan di facebook

Jawabnya adalah sama atau hampir sama dengan adab-adab di atas.
  • Pertama, jauhilah segala sarana menuju zina melalui pandangan, sentuhan dan berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom.
  • Kedua, tutuplah aurat di hadapan bukan mahrom. Sehingga seorang muslimah tidak menampakkan perhiasan yang sebenarnya hanya boleh ditampakkan di hadapan suami. Contoh yang tidak beradab seperti ini adalah berbusana tanpa jilbab atau bahkan dengan busana yang hakekatnya telanjang. Inilah yang banyak kita saksikan di beberapa foto profil di FB atau friendster. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka.
  • Ketiga, tundukkanlah pandangan. Bagaimana mungkin bisa saling menundukkan pandangan jika masing-masing orang memajang foto di hadapan lawan jenisnya? Wanita memamerkan fotonya di hadapan pria. Mungkinkah di sini bisa saling menundukkan pandangan? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika foto profil kita bukanlah foto kita, namun dengan foto yang lain yang bukan gambar makhluk bernyawa. Tujuannya adalah agar foto wanita tidak membuat fitnah (godaan) bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya. Di antara bentuk menundukkan pandangan adalah janganlah menggunakan webcamp selain dengan sesama jenis saja ketika ingin melakukan obrolan di dunia maya.
  • Keempat, hati-hatilah dengan berdua-duaan bersama lawan jenis yang bukan mahrom. Jika seorang pria dan wanita melakukan pembicaraan via chatting, telepon atau sms –tanpa ada hajat (keperluan)-, itu sebenarnya adalah semi kholwat (semi berdua-duaan). Apalagi jika di dalamnya disertai dengan kata-kata mesra dan penuh godaan sehingga membangkitkan nafsu birahi. Dan jika memang ada pembicaraan yang dirasa perlu antara pria dan wanita yang bukan mahrom, maka itu hanya seperlunya saja dan sesuai kebutuhan. Jika tidak ada kebutuhan lagi, maka pembicaraan tersebut seharusnya dijauhi agar tidak terjadi sesuatu yang bisa menjurus pada yang haram.
  • Kelima, janganlah melembutkan atau mendayu-dayukan suara atau kata-kata di hadapan lawan jenis. Penyimpangan dalam adab terakhir ini, kalau diterapkan dalam obrolan chatting adalah dengan kata-kata yang lembut atau mendayu-dayu dari wanita yang menimbulkan godaan pada pria. Contoh menggunakan kata-kata yang sebenarnya layak untuk suami istri seperti “sayang”, dsb.
Jika setiap muslim mengindahkan adab-adab di atas, maka tentu saja dia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan tidak akan mengalami hal yang serupa dengan kisah di atas dengan izin Allah.

Kami ingatkan pula bahwa tulisan ini bukanlah hanya kami tujukan kepada kaum hawa saja, namun kami juga tujukan pada para pria agar mereka juga memperhatikan adab-adab di atas. Jadi janganlah tulisan ini dijadikan sebagai sarana untuk memojokkan wanita atau para istri, namun hendaklah dijadikan nasehat untuk bersama.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan sifat ketakwaan, memberi kita petunjuk dan kecukupan. Semoga Allah melindungi dan menjaga keluarga kita dari hal-hal yang haram dan mendatangkan murka Allah. Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Wa shallallahu wa sallamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Walhamdulillahir rabbil ‘alamin
»»  read more

Jumat, 04 September 2009

pesankan saya tempat di neraka

Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang 'perhatian' kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.

Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.

Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!"

Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.

Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.

Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.

"Bangunkan saja!" kata seorang penumpang.
"Iya, bangunkan saja!" teriak yang lainnya.

Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.

Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.

Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya....
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat...
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk...
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah...
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.

Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar...
mumpung kesempatan itu masih ada!

Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a'lam.


sumber : "komunitas dakwah ikhwah" id FB
»»  read more

Rabu, 19 Agustus 2009

Keteguhan Pengemban Dakwah Dalam Menjaga Fikrah Islam

Kali ini kita akan mengambil 'ibrah dari sebuah kisah yang dikeluarkan oleh Al Hafidz Abu Nu'aim Al Ashfahaniy[1] rahimahullah dalam magnum opus beliau, kitab Hilyatul Auliyaa' Wa Thobaqotul Ashfiyaa'[2].Meski pun sederhana, tapi cerita ini akan memberi inspirasi kepada siapa saja yang mengaku ingin memikul beban dakwah dan ingin menjaga kebersihan fikrah pada diri ummat. Berikut kisahnya:
Abdush Shomad bin Ma'qil berkata bahwa ia pernah mendengar Wahb bin Manabih berkata, “suatu hari, orang yang sangat dihormati di jamannya mendatangi seorang raja yang suka memaksa rakyatnya untuk makan daging babi. Ketika ia mendatangi raja, orang-orang merasa salut sekaligus cemas terhadapnya. Pengawal raja mengatakan kepadanya, “berikan seekor anak kambing kepadaku untuk kami sembelih, sehingga anda dihalalkan untuk memakannya. Jika sang raja meminta daging babi, maka kami akan memberikan daging kambing itu kepada anda lalu makanlah.” Pengawal itu kemudian menyembelih anak kambing dan memberikan kepadanya. Sang raja juga diberi daging tersebut, namun raja memerintahkan agar ia (orang yang dihormati itu) diberi daging babi. (Tapi diam-diam) si pengawal memberi orang mulia itu daging kambing yang tadi diberikan kepadanya. Lantas sang raja menyuruh orang mulia tersebut untuk memakannya (daging babi palsu itu). Tapi orang mulia itu tidak mau. Pengawal sudah memberi isyarat kepadanya agar ia memakannya karena daging itu sebenarnya adalah daging kambing yang tadi ia serahkan. Tapi orang mulia itu tetap tidak mau memakannya. Akhirnya, sang raja memberi perintah kepada pengawal untuk membunuh orang tersebut. Ketika pengawal tadi membawanya, ia bertanya, “mengapa anda tidak mau memakannya, padahal itu adalah daging kambing yang tadi anda serahkan kepadaku, apakah anda mengira bahwa aku memberi daging lain?” Orang mulia itu menjawab, “aku tahu bahwa daging itu memang daging kambing akan tetapi aku khawatir orang-orang akan menjadikan aku sebagai panutan, sehingga orang-orang yang disuruh makan daging babi akan berkata, “si fulan pernah memakannya”. Akibatnya semua orang akan menjadikan diriku sebagai panutan sehingga aku menjadi fitnah bagi mereka”. Lalu orang mulia itu dibunuh”.
Saudaraku, apa pelajaran yang ingin disampaikan oleh Abu Nu'aim rahimahullah kepada kita sehingga beliau memasukkan kisah ini ke dalam kitab beliau itu? Beliau ingin menunjukkan bahwa seorang panutan itu tidak boleh memikirkan keselamatan dirinya saja ketika bertindak. Dia harus memikirkan juga bahwa perbuatan dan perkataannya merupakan rujukan bagi ummat. Seorang juru dakwah sejati tidak boleh membiarkan peluang adanya distorsi fikroh pada diri ummat. Seandainya orang mulia itu makan daging kambing yang diberikan oleh pengawal, niscaya dia akan selamat dari daging babi, selamat dari dosa, dan selamat dari hukuman. Tapi dia tahu bahwa hal itu akan merusak pemahaman orang banyak secara permanen. Dan rusaknya pemahaman membawa implikasi jangka panjang yang sulit untuk diluruskan. Maka orang tersebut memilih mati dari pada melihat bencana kesesatan ummat. Dari sikap yang dia ambilnya itu manusia bisa belajar tentang ketegaran jiwa dalam berpegang teguh kepada agama Allah. Meskipun dia mati, tapi apa yang dia lakukan akan menjadi teladan dan akan memberi inspirasi bagi ummat, sehingga akan lahir lebih banyak lagi orang-orang yang memiliki mental seperti dia.
Syaikh Taqiyuddin An Nabhaniy rahimahullah dalam nidzomul islam mengatakan, “seorang pengemban dakwah tidak akan mencari muka dan basa-basi di depan masyarakat, bermuka dua atau bersikap toleran terhadap penguasa (dzalim).” Beliau juga berkata, “demikian seharusnya sikap seorang pengemban dakwah islam, yaitu menyampaikan dakwah secara terang-terangan, menentang segala adat, kebiasaan, ide-ide sesat dan persepsi yang salah, bahkan akan menentang opini umum masyarakat kalau memang keliru, sekalipun untuk itu dia terpaksa bermusuhan.” Beliau juga berkata “seorang pengemban dakwah tidak akan mengambil jalan kompromi dan tidak akan mengorbankan nilai-nilai islam”.
Hizb, yang pernah beliau pimpin semasa hidup, tidak basa-basi dalam mencap negara-negara yang ada saat ini berikut konstitusi dan perundangannya dengan stempel “kufur”. Dalam buku manhaj dakwah dikatakan bahwa “hizb dalam mengemban ide-idenya; dalam menentang ide-ide lain (yang kufur) dan menentang kelompok-kelompok politik (yang tidak islami); dalam melawan negeri-negeri kufur; atau dalam menentang para penguasa (dzalim) akan senantiasa bersikap terbuka, terang-terangan, menentang, tidak basa-basi, tidak berpura-pura, tidak berkompromi, tidak berputar-putar, tidak mementingkan keselamatan sendiri dan tanpa pula mamandang hasil dan keadaan yang terjadi.” Hizb juga mengatakan, “Demikian pula Hizb tidak akan berkompromi dengan penguasa dan tidak memberikan loyalitas kepada mereka, berikut konstitusi dan perundangan mereka dengan alasan bahwa hal ini akan membantu kelancaran dakwah. Sebab syara' memang tidak membolehkan mengambil sarana yang haram untuk memenuhi suatu kewajiban. Sebaliknya, Hizb akan mengoreksi dan mengkritik para penguasa itu dengan tegas. Hizb menganggap bahwa peraturan yang mereka terapkan adalah peraturan kufur, sehingga harus dihilangkan dan diganti dengan hukum-hukum islam. Hizb juga menganggap bahwa mereka pada hakekatnya adalah orang-orang yang fasiq dan dzalim karena telah menjalankan hukum-hukum kufur, sebagaimana Hizb juga menganggap bahwa siapa pun di antara penguasa itu yang mengingkari kelayakan islam atau kelayakan salah satu hukum-hukumnya untuk diterapkan adalah orang kafir”.
Semua kata-kata keras dan tegas itu disampaikan tanpa memikirkan masa depan dan keselamatan Hizb. Sebab, kewajiban dakwah harus ditunaikan apa pun konsekuensinya. Perlu diingat bahwa penjelasan tentang manhaj dakwah yang keras dan tegas itu disampaikan di depan para delegasi konferensi ISNA di Missouri, Amerika Serikat pada tahun 1989. Maka bisa dibayangkan bagaimana keteguhan jiwa delegasi Hizb yang membacakan pidato dahsyat itu dalam konferensi tersebut.[3]
Ketegasan yang seharusnya diambil tatkala menentang sistem dan perundangan kufur itu tidak akan tampak jika kita justru mencitrakan diri sebagai orang yang tidak bermasalah dengan negara nasionalistik-sekuler berikut UUDnya, dasar negaranya, dan seluruh peraturan kufur yang dihasilkan olehnya? Ummat harus tahu bahwa kita berlepas diri dari semua itu! Ummat harus melihat bahwa kita berhadapan secara diametral di seberang kebathilan, agar yang bathil terlihat bathil dan yang haq terlihat haq! Agar ummat nantinya mampu melihat dengan mata yang kita pakai saat ini! Itu jauh lebih penting dari keslamatan dan kedudukan kita. Wallaahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq wa huwal Musta'aan

[1] Beliau adalah Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Ashfahaniy. Lahir pada tahun 336 H, wafat pada tahun 430 H. Imam Adz Dzahabi rahimahullah mengatakan: “beliau adalah imam al hafidz (penghafal hadits), tsiqoh (periwayatannya terpercaya), sangat alim (berilmu), mahaguru islam (syaikhul islam), dan Abu Nu'aim yang sufistik”. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Abu Nu'aim adalah salah satu penghafal hadits terkemuka, penulis buku terbanyak, dan karya tulisnya banyak dimanfaatkan orang. Beliau lebihdari pada disebut tsiqoh, sebab karya tulis beliau kualitasnya lebih tinggi dari gelar itu..”.
[2] Kitab yang sangat masyhur, memuat pelajaran-pelajaran berharga dari kehidupan dan petuah kaum salafush sholih. Jika anda membaca buku, kemudian pengarangnya menyebutkan “diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al Hilyah”, maka Al Hilyah yang dimaksud adalah kitab ini. Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al Bidayah mengatakan: “di antara kitab beliau (Abu Nu'aim) adalah Hilyatul Auliyaa' yang terdiri dari banyak jilid”.
[3] Bandingkan dengan berbagai kelompok yang ketika berhadapan dengan seorang tokoh penting saja bicaranya penuh dengan berbasa-basi dan kekaburan demi mencari muka dan mendapat hubungan baik dengan tokoh tersebut.
»»  read more

Selasa, 18 Agustus 2009

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Yang Engkau Cintai

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum�."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya��Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.
»»  read more

Minggu, 16 Agustus 2009

Alkisah Teruntuk Muhasabah

Dahulu kala... Bani Quraisy menolak disebut menyembah; Latta, Uzza, Manat, Hubal yangg dibawa oleh Amr ibn Luhay (yangg diangap 'alim), sesembahan-sesembahan itu ia tenteng dari negeri Syam, sehinggalah risalah 'tauhid' Ibrahim 'Alahissalam sedikit demi sedikit pudar dan punah dari semesta. Lantas bergantilah penyembahan kepada batu.

Apatah mereka berkenan disebut 'menyembah' berhala? O, ternyata tidak. Mereka tetaplah beranggapan... "KAMI menyembah ALLAH tetapi dengan wasilah 'Latta 'Uzza'

Begitu pulalah, dengan sebagian kaum Muslimin kini, mana ada yang sudi dilekatkan begini,: 'KAMU TELAH MENYEMBAH NASIONALISME' mereka akan berreaksi begini, kami mensyukuri kemerdekaan ini. tak bolehkah kami menikmati sedikit cucuran syukur ilahi?

Nah, nah,
mereka terjebak ke dalam anasir-anasir Falaccy Dramatic of Instance.

Coba perbandingkan, antara elakan para 'penghamba nasionalisme' dengan peng-ngeles-an kaum Quraisy.. adakah ketersamaan tabiat dan perilaku?

dan... simpulkanlah dengan jiwa membening jernih
»»  read more

Senin, 27 Juli 2009

3 Isu Utama Dakwah Islam

Oleh MR Kurnia

Fokus Dakwah: Akidah, Khilafah, dan Jihad

Dakwah merupakan aktivitas untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Dakwah merupakan perkara yang amat penting. Karenanya, amat dapat dimengerti betapa kehidupan Nabi saw. adalah kehidupan dakwah.

Banyak sekali persoalan yang dihadapi Nabi saw. dalam mengubah masyarakat. Namun, beliau memiliki fokus dalam aktivitas dakwahnya. Berkaitan dengan fokus dakwah ini, Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “
(TQS al-Baqarah [2]: 218)

Di dalam ayat tersebut Allah Swt. menggambarkan realitas para sahabat yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah Swt. dengan semata-mata mengharapkan balasan-Nya. Zat Yang Mahaperkasa menyatukan ketiga perkara—yakni iman, hijrah, dan jihad—sebagai sesuatu yang saling berkaitan. Hal ini ditunjukkan dengan digunakannya kata hubung wa (dan), bukan aw (atau).

Pertama: iman. Secara syar‘i, iman berarti pembenaran yang pasti tanpa sedikit pun keraguan, sesuai dengan realitasnya, dan bersumber dari dalil. Iman sering disebut sebagai akidah islamiah.

Kedua: hijrah. Hijrah menurut Imam Ibnu Katsir adalah meninggalkan suatu daerah dan sistem syirik (dâr asy-syirk) menuju daerah dan sistem iman (dâr al-îmân)1. Hijrah merupakan pemisah dua fase, yaitu fase pembangunan akidah (di Makkah) dan fase pembangunan pilar-pilar negara serta perlindungannya di Madinah. Hijrah merupakan titik tolak terbentuknya Daulah Islamiyah dan pengeluaran manusia dari kegelapan menuju cahaya.2

Lebih tegas lagi, hijrah adalah keluar dari suatu wilayah yang sistemnya kufur dan keamanannya di tangan kaum kafir (dâr al-kufr) masuk ke dalam sistem aturan Islam dan keamanannya berada di tangan kaum Muslim (dâr al-Islâm)3. Sejak berhijrah ke Madinah, Rasulullah saw. sebagai kepala negara menerapkan hukum-hukum Islam di tengah-tengah masyarakat. Beliau dan para sahabatnya menyeru siapapun yang masuk Islam untuk berpindah ke dâr al-muhâjirîn. Di dalam banyak hadis disebutkan bahwa bentuk dâr al-Islâm itu adalah Khilafah yang dipimpin Khalifah. Dialah yang mengurusi umat setelah wafatnya Nabi saw. Beliau bersabda:

“Adalah Bani Israil, urusan mereka diurusi oleh para nabi. Ketika wafat seorang nabi, datanglah nabi yang lain. Sungguh, tidak ada nabi sesudahku, yang akan ada adalah para khalifah yang banyak.”
(HR al-Bukhari).

Ketiga: jihad. Setelah menegakkan Pemerintahan Islam di Madinah, Nabi saw. diperintahkan berjihad. Secara syar‘i, dari 26 kata jihad dalam surat-surat yang turun di Madinah dengan jelas menunjukkan makna perang. Karenanya, jihad merupakan pengerahan seluruh kemampuan untuk berperang di jalan Allah, baik secara langsung, dengan bantuan keuangan, pandangan (pemikiran), memperbanyak kuantitas (sawad) ataupun yang lain.4

Jihad melindungi Islam dan kaum Muslim dari serbuan kaum kafir yang menghalang-halangi dakwah Islam secara fisik. Bangunan masyarakat yang ditegakkan di atas keimanan untuk menerapkan seluruh hukum-hukum Islam dan menyatukan kaum Muslim di bawah naungan Khilafah dijaga oleh semangat jihad untuk mengatasi hantaman musuh yang hendak memporak-porandakannya.

Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat senada lainnya (seperti QS al-Anfal [8]: 72, 74, 75; QS at-Taubah [9]: 20; dan QS al-Hajj [22]: 58), Allah Swt. menegaskan bahwa landasan dakwah Nabi saw. adalah: iman (akidah islamiah), tujuannya mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam; penerapan syariah di bawah naungan Khilafah; dan jihad fi sabilillah untuk mempertahankan dan menyebarluaskan akidah Islam hingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu, dakwah harus difokuskan pada tiga isu utama, yaitu: akidah, Khilafah, dan jihad.

Qâdhiyah Mashîriyah

Qâdhiyah mashîriyah maknanya adalah perkara penting yang mengandung konsekuensi hidup atau mati.5 Al-Quran dan as-Sunnah telah menetapkan perkara-perkara yang merupakan qâdhiyah mashîriyah. Perkara-perkara tersebut adalah:

  1. Akidah Islam. Orang yang murtad diberikan dua pilihan, yakni bertobat atau mati setelah dibuktikan di pengadilan.
  2. Rasulullah saw. bersabda:

    “Siapa saja yang mengganti agamanya (murtad dari Islam) maka bunuhlah”
    (HR al-Bukhari)

  3. Kesatuan umat. Rasulullah saw. telah menjadikan kesatuan umat di bawah satu kepemimpinan Khalifah sebagai qâdhiyah mashîriyah (perkara utama) kaum Muslim. Siapa saja yang memporakporandakan kesatuan kaum Muslim alternatifnya hanya dua, kembali ke kesatuan umat sehingga tetap hidup, ataukah mati.
  4. Rasulullah saw. bersabda:

    “Siapa saja yang membaiat seorang imam (khalifah) seraya memberikan tangannya dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaatinya sekuat tenaga. Apabila datang orang lain memporakporandakannya maka penggallah leher orang tersebut.”
    (HR Muslim)

  5. Memenangkan Islam. Ketika di Makkah, Rasulullah saw. memproklamirkan bahwa memenangkan Islam merupakan qâdhiyah mashiriyah. Ketika beliau di Makkah ditawari tahta, wanita, dan kekuasaan oleh kafir Quraisy dengan syarat menghentikan dakwah Islam, beliau tidak menghentikannya hingga Allah memenangkan Islam atau beliau binasa, bahkan andaikan mereka dapat mendatangkan matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri beliau.
  6. Saat di Madinah beliau bersabda:

    “Demi Allah, sungguh, aku akan senantiasa berjihad terhadap mereka di atas apa yang diutuskan Allah padaku, hingga Allah memenangkannya atau leher ini tergelincir.”
    (HR Ahmad)

Paparan di atas menunjukkan bahwa akidah Islam, menerapkan Islam dan menyatukan umat di bawah naungan Khilafah, serta jihad untuk memenangkan Islam ketika mendapatkan halangan fisik dari kaum imperialis merupakan qâdhiyah mashiriyah (perkara utama) kaum Muslim. Realitas ini semakin mengokohkan bahwa fokus dakwah adalah: akidah Islam, Khilafah, dan jihad fi sabilillah.

Persoalan umat demikian banyak; perlu fokus. Jika tidak, niscaya energi akan tersebar, tujuan pun semakin lama tercapai. Fokus dakwah pada tiga persoalan utama tersebut bukan berarti meninggalkan hal yang lain. Akan tetapi, aktivitas lain itu jangan sampai memalingkan dakwah dari arah utamanya.

Urgensi Tiga Fokus Utama Dakwah

Kebangkitan umat bergantung pada pemahamannya tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan serta hubungan semua itu dengan keadaan sebelum dunia dan setelah dunia: dari mana manusia sebelum hidup di dunia; untuk apa manusia ketika hidup di dunia; dan akan kemana manusia setelah mati meninggalkan dunia?

Umat yang memahami bahwa hidup hanya di dunia semata akan berbeda dengan umat yang memahami bahwa nanti akan ada kehidupan di akhirat tetapi hidup di dunia tidak terkait dengan kehidupan akhirat. Lain lagi dengan umat yang memahami bahwa dia diciptakan Allah Swt. di dunia untuk beribadah kepadanya dengan cara mengikuti aturan yang Dia turunkan, dan kelak akan hidup lagi di akhirat, dihisab, dan setiap amal akan dibalas.

Jawaban terhadap pertanyaan dasar di atas itulah akidah. Kekeliruan akidah akan menjadikan hidup salah arah. Umat yang akidahnya keliru akan berada dalam arah hidup menuju kenestapaan dunia dan akhirat. Berdasarkan hal ini, akidah merupakan perkara terpenting dalam perubahan masyarakat, bahkan dalam hidup. Lebih dari itu, Nabi saw. mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam dilandasi oleh akidah islamiah.

Pada saat sekarang ini, akidah umat sedang dirasuki oleh akidah sekular. Keyakinan demikian tidak dapat hilang tanpa penanaman akidah Islam. Jadilah dakwah untuk menanamkan akidah Islam menjadi urgen.

Akidah Islam mengharuskan penganutnya terikat dengan seluruh aturan Islam yang dibawa oleh Nabi saw. (Lihat, misalnya, QS an-Nisa’ [4]: 65). Karenanya, orang yang berpegang pada akidah Islam akan senantiasa terikat dengan aturan-aturan Islam. Keterikatan pada syariat Islam bukanlah karena takut oleh polisi atau penguasa, melainkan karena takut kepada Allah Swt. Hasilnya, aturan Islam yang digali dari al-Quran dan as-Sunnah yang diwahyukan oleh Allah Swt. akan dilaksanakan dengan penuh kerelaan dan ketundukan serta dijaga dan dipelihara oleh masyarakat atas dasar keimanannya.

Realitas pun memastikan mutlaknya penerapan aturan Islam. Krisis multi-dimensional yang terjadi saat ini disebabkan karena tidak diterapkannya Islam. Sebagai contoh, akibat umat Islam tidak menerapkan Islam dalam sistem ekonomi maka ekonomi kapitalislah yang diterapkan. Akibatnya, terjadilah privatisasi barang milik umum; hak rakyat dirampas oleh pemilik modal; yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin akibat kezaliman sistem ekonomi tersebut. Kalaupun negara-negara kapitalis besar kelihatannya ‘sejahtera’, sebenarnya itu semu. Sebab, mereka ‘sejahtera’ karena mengeruk kekayaan dan menjajah negeri-negeri Muslim secara ekonomi. Saat politik tidak diatur oleh aturan Islam, muncullah politik opurtunistik yang tidak lagi membela rakyat, melainkan sekadar kepentingan individual atau partai. Begitu juga dalam masalah lainnya. Benang merah dari semua itu adalah krisis multidimensional yang terjadi disebabkan oleh tidak diterapkannya aturan Islam. Jika itu akar persoalannya, maka pemecahannya adalah menerapkan secara total aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan.

Penerapan aturan ini meniscayakan adanya kekuasaan dan sistem yang menerapkannya. Sistem ini adalah Daulah Islam atau Khilafah Islam. Tanpa Daulah Islam atau Khilafah Islam tidak mungkin syariat Islam dapat diterapkan secara kâffah. Itulah juga yang dipraktikkan Nabi saw. dan para sahabat beliau pada masa lalu.

Tantangan saat ini pun bersifat global, mendunia. Betapa cengkeraman negara kafir imperialis AS dan sekutunya di negeri Muslim Palestina, Afganistan, Filipina, Pattani, Irak, bahkan Malaysia dan Indonesia lewat tanpa penyelesaian. Negara yang bersifat kebangsaan semakin tampak lemah dan tidak dapat menyelesaikan banyak persoalan. Solusinya haruslah global. Kaum Muslim harus bersatu dalam satu kepemimpinan umum sedunia, yaitu Khilafah Islam. Teranglah, betapa urgen keberadaan Khilafah Islam.

Kini, ada negeri-negeri Muslim seperti Palestina dan Irak yang langsung dijajah secara militer. Untuk membebaskan negeri-negeri tersebut dari penjajahan, Islam menetapkan hukum jihad, yang terutama diwajibkan atas Khalifah. Begitu juga, kelak ketika Allah Swt. memberikan kemenangan kepada kaum Muslim dengan tegaknya syariat Islam dan menyatunya negeri-negeri kaum Muslim. Jika kaum imperialis menggunakan senjata untuk menghancurkan kekuatan dunia baru tersebut maka Khalifah akan melindungi Islam dan umatnya dengan menyerukan jihad. Untuk mempersiapkan hal-hal tersebut, maka ruh jihad dalam diri umat Islam perlu ditumbuhkan. Dengan ruh jihad, musuh-musuh Islam akan berpikir ulang untuk menjajah kaum Muslim.

Sosialisasi

Penyatuan isu dakwah tentang akidah Islam, Khilafah, dan jihad dapat diwujudkan dengan menanamkan pada umat Islam hakikat langkah menuju kebahagiaan hakiki. Secara umum, penting umat Islam menyadari hakikat kebahagiaan hakiki tersebut. Hakikat yang dimaksud adalah:

  1. Hidup ini adalah untuk meraih keridhaan Allah Swt.
  2. Keridhaan Allah Swt. itu ada dalam ketaatan kepada-Nya yang didasarkan atas keimanan/akidah Islam.
  3. Ketaatan kepada Allah Swt. hanya dapat terwujud dengan cara menerapkan seluruh aturan-aturan-Nya secara total (kâffah).
  4. Penerapan Islam kâffah hanya dapat terjadi dengan sempurna jika seluruh syariat Islam diterapkan di bawah naungan Khilafah.
  5. Khilafah adalah milik seluruh umat Islam. Karenanya, menjaga kelanggengan tegaknya Khilafah merupakan kewajiban seluruh umat Islam. Setiap Muslim sejatinya menjadi penjaga setiap celah Islam melalui dakwah dan jihad bersama dengan kepemimpinan umat Islam tersebut.

Tolok ukur keberhasilan dakwah dengan tiga fokus tersebut dapat dilihat dari munculnya kesadaran politik (wa‘yu siyâsi) umat. Semakin banyak umat yang tersadarkan, dan semakin besar opini umum yang terbentuk, menunjukkan semakin berhasilnya dakwah tersebut. Pada sisi lain, semakin banyaknya proyek dari negara-negara besar terhadap para pengekornya untuk menentang opini yang dikembangkan itu merupakan indikasi lain keberhasilan dakwah ‘three in one’ ini.

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. ?

Catatan kaki:

  1. Ibnu Katsir, 1412H, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, Dar al-Fikr, I/544.
  2. Muhammad Abdullah al-Khatib, 1995, Makna Hijrah Dulu dan Sekarang (Terj.), Gema Insani Press, hlm. 64.
  3. Taqiyyuddin an-Nabhani, 1953, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, Min Mantsurat Hizbut Tahrir, 2/229.
  4. Muhammad Khair Haikal, 1996, Al-Jihâd wa al-Qitâl fî as-Siyâsah asy-Syar‘iyyah, Dar al-Bayariq, 1/40-44.
  5. Abdul Qadim Zallum, 1990, Kayfa Hudimat al-Khilâfah, Dar al-Ummah, hlm. 193, Cet. 3.
»»  read more

Sabtu, 25 Juli 2009

Menjaga Sholat

Identitas seorang muslim tidak terlepas dari amaliyah ibadah shalat, karena shalat merupakan ciri yang membedakan antara pribadi muslim dengan orang kafir. Orang muslim yang Islamnya benar, pasti melakukan ibadah shalat penuh dengan kesungguhan dan kekhusyu’an seraya berjamaah. Sedangkan bagi mereka yang Islamnya hanya pengakuan saja, shalat hanya sekedar lambang atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Padahal, shalat bukanlah sekumpulan gerakan dan bacaan yang kosong dari makna dan tujuan, tetapi ia adalah ibadah yang mengandung arti yang dalam dan berisi pelajaran yang berharga.

Shalat adalah kunci diterima atau tidaknya semua amal manusia. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Amal yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, maka jika shalatnya baik, berbahagialah dia, dan jika shalatnya rusak, rugilah dia dan sia-sialah usahanya.” (HR. Thabrani)

Imam Ahmad dalam sebuah nasihat kepada putranya Abdullah pernah berkata; “Hai anakku, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah menegaskan:“Tidak ada keberuntungan sama sekali dalam Islam untuk orang yang meninggalkan shalat.”

Lebih lanjut Iman Ahmad berkata, Umar bin Khaththab pernah mengirim surat peringatan kepada semua wali negeri (gubernur), di dalamnya beliau berkata: “Hai para wali, sesungguhnya tugas yang aku pandang paling penting adalah shalat. Maka barangsiapa memelihara shalat, niscaya dia telah memelihara agamanya. Orang yang menyia-nyiakan shalat, maka ibadah lainnya pasti lebih dia sia-siakan. Tidak ada bagian apa-apa dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Karena itu, hai Abdullah, orang yang menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya berarti ia menyia-nyiakan dan meremehkan Islam. Keberuntungan seorang hamba dalam Islam adalah menurut keberuntungan yang ia peroleh dalam shalat, kesenangan mereka kepada Islam, adalah menurut kesenangannya kepada shalat.”

Ingatlah akan dirimu hai Abdullah dan waspadalah, jangan sampai kamu menjumpai Allah dalam keadaan tidak menghargai Islam. Kadar penghargaan yang diberikan seseorang kepada Islam adalah sekedar harga shalat dalam jiwanya.”

Nasihat Imam Ahmad kepada anaknya di atas hakekatnya ditujukan kepada umat Islam umumnya. Bagaimana selaku orang beriman tidak menyia-nyiakan ibadah shalat yang juga sebagai ciri—rukun Islam—dari keberadaan kita sebagai muslim. Peringatan itu juga menunjukan begitu tingginya kedudukan shalat dalam syariat Islam, oleh karenanya tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melaksanakan dan menjaganya dengan baik.

Di antara menjaga shalat yang baik adalah melaksanakannya secara khusyu’ dan berjama’ah.

Shalat yang Khusyu’

Menurut kebanyakan ulama yang dimaksud dengan khusyu’ adalah, “Menundukkan menenangkan hati serta anggota badan kepada Allah Suhanahu Wa Ta’ala.”

Jadi, shalat seseorang dapat dikatakan khusyu’ manakala selama shalat tersebut hati dan pikirannya senantiasa tertuju kepada Allah Ta’ala. Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bahwasanya seorang hamba sungguh mengerjakan shalat, padahal tidak ditulis baginya kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya sampai sepersepuluhnya. Sesungguhnya yang ditulis untuk seseorang dari shalatnya hanyalah sekedar yang dapat ia pahami dari padanya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Amar bin Yasir)

Adapun cara untuk mengkhusyu’kan shalat antara lain; Ihsan, yaitu merasa diawasi Allah yang Maha Kuasa. Memahami makna bacaan Qur’an dan dzikir-dzikir yang dibaca dan menghayati kandungannya. Memanjangkan ruku’ dan sujudnya. Muhammad Al-Bahry berkata, “Di antara pekerjaan yang menghasilkan khusyu’ adalah memanjangkan ruku’ dan sujudnya.”

Jangan memain-mainkan anggota badan. Hendaknya memandang ketempat sujud walaupun bermata buta atau shalat di samping Ka’bah. Berupaya menjauhkan diri dari segala hal yang membimbangkan hati. Karena itu jangan shalat di atas tikar atau sajadah yang bergambar dan jangan shalat sambil menahan buang air besar atau kecil.

Dengan upaya-upaya di atas, diharapkan shalat yang dilaksanakan lebih mendekatkan kepada kekusyu’an dalam shalat. Sehingga ibadah shalat yang dikerjakan minimal lima kali dalam sehari ini tidak menjadikan kita orang-orang merugi.

Shalat Berjamaah

Begitu tinggi nilai yang Allah berikan kepada orang mukmin yang shalat dengan berjamaah, sehingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pun bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra.)

Tak heran jika Islam sangat menuntut agar muslimin melaksanakan shalat bejamaah di setiap masjid. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Menurut catatan kaki “Al-Qur’an dan terjemahnya” Departemen Agama RI, yang dimaksud dengan kalimat “ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ adalah shalat berjamaah.

Pada ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-taubah: 18)

Dari kedua firman Allah di atas, bisa disimpulkan shalat berjama’ah itu wajib bagi setiap mukmin laki-laki, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya kecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadis-hadis yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:

Hadis shahih dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Telah datang kepada Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam seorang lelaki buta, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau (Rasulullah) memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’”. (HR. Muslim)

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa pergi ke masjid baik pagi atau sore hari, maka Allah akan menyediakan satu tempat tingal di surga setiap kali dia pergi.” (Muttafaq Alaih)

Ibnu Mas’ud berkata: “Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah sebagai seorang muslim, hendaklah benar-benar menjaga shalat pada waktunya ketika mendengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah menganjurkan kepada Nabimu langkah-langkah untuk mendapatkan kebaikan yaitu, shalat berjama’ah di masjid yang diserukan adzan di dalamnya. Seandainya kamu shalat di rumahmu…maka berarti kamu telah meninggalkan sunnah Nabimu. Jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu, maka sesatlah kamu.”

Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Barangsiapa dari tetangga masjid mendengar seruan adzan lalu dia tidak memenuhinya sedang dia dalam keadaan sehat, tidak ada udzur (halangan), maka tidak ada shalat baginya.”

Diriwayatkan, suatu saat Khalifah Umar bin Khathab mendapati beberapa kelompok yang tidak shalat berjamaah. Maka beliau bertanya: “Apa sebabnya orang-orang itu tidak datang? Hendaknya mereka datang ke masjid atau saya kirimkan kepada mereka orang-orang yang akan menebas batang leher mereka.” Kemudian Umar berseru dengan suara yang lantang, “Datanglah ke shalat jamaah, datanglah ke shalat jamaah, datanglah ke shalat jamaah!”

Ibnu Abas berkata: “Barangsiapa mendengar seseorang yang adzan, dan tidak memenuhinya, maka jelas orang itu tidak dikehendaki Allah menjadi orang baik dan tidak pula menghendaki adanya kebaikan untuk dirinya.”

Demikianlah firman Allah, hadis Nabi dan komentar para tokoh sahabat tentang pentingnya shalat berjamaah di masjid. Sedangkan ulama sesudah mereka, khususnya para imam-imam madzhab walaupun berbeda pendapat dalam menentukan hukumnya, namun mereka bersepakat meninggalkan shalat berjamaah tanpa ada udzur adalah perbuatan yang sangat tercela. Para ulama madzhab Hanafi dan Maliki bahkan menetapkan bahwa meninggalkan shalat berjamaah adalah berdosa, walaupun mereka menghukuminya sebagai sunnah muakkad.

Adapun udzur yang di bolehkan untuk meniggalkan shalat berjamaah ialah: sakit atau bepergian. Mengerjakan hal yang sangat perlu, misalnya sangat lapar, perlu makan dahulu. Takut kehilangan harta, atau takut terhadap suatu gangguan, atau sedang sangat mengantuk. Takut akan gangguan hujan, Lumpur, banjir, angin topan, dan keadaan sangat gelap gulita.

Bila kita renungkan uraian di atas, ternyata shalat berjamaah harus dilaksanakan di masjid, yang suara adzan sampai pada rumahnya, kecuali jika ada udzur yang dibolehkan, maka barulah dilaksanakan di rumah, namun tidak bagi kaum muslimat. Bagi mereka, shalat di rumah lebih utama daripada shalat di masjid. Ini berdasarkan larangan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam kepada suami atau wali agar tidak menghalangi kaum muslimat mengikuti shalat berjamaah di masjid.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu menghalangi para wanita keluar ke masjid, sedang rumah-rumah mereka lebih baik baginya.” (HR. Abu Daud dari Ibnu Umar)

Dalam hadis lain “Jangan kamu menghalangi hamba-hamba Allah (para wanita) pergi ke masjid Allah. Dan hendaklah mereka keluar ke masjid dengan tanpa wewangian.” (HR. Abi Daud dari Abu Hurairah)

Terkait hal di atas, Prof. Dr. Hasbi Ash Shiddiqy setelah mengedepankan hadis-hadis tentang larangan “mencegah kaum wanita pergi ke masjid” dan hadis yang menerangkan “kaum wanita lebih utama shalat di masjid” berkomentar sebagai berikut;

“Apabila hadis-hadis dalam masalah ini dikumpulkan semuanya dan di artikan satu per satu condong kepada pendapat Ibnu Harun, yakni: ‘Bukanlah yang lebih utama bagi wanita shalat di rumahnya melainkan lebih utama bagi mereka shalat dengan berjamaah di masjid (dekat rumahnya). Hadis yang menerangkan bahwa para wanita lebih baik shalat di rumahnya, tak ada yang terlepas catatan atau dipermasalahkan keshahihannya. Andaikata kita pandang shahih, maka dia berlawanan dengan hadis yang nyata-nyata keshahihannya dan perintah nabi sendiri supaya wanita pergi ke tanah lapang pada hari Ied. Sekirannya para wanita lebih baik shalat di rumah, tentulah para wanita sahabat tidak bersusah payah keluar di malam hari dan di waktu pagi hari untuk shalat berjamaah bersama Nabi di masjid. Seluruh ahli ilmu menetapkan bahwa Nabi tidak pernah melarang para wanita menghadiri shalat berjamaah di masjid. Juga para Khulafaur Rasyyidin tidak pernah mengeluarkan larangan untuk itu. Jika demikian, nyatalah bahwa perginya para wanita ke masjid adalah suatu “amalul ghoiri” suatu amal kebajikan dan kebaikan. Jika tidak, tentulah Nabi tidak akan membiarkan para wanita pergi ke masjid.”
»»  read more

Kamis, 09 Juli 2009

Mengingat Allah SWT

Oleh : Arief B. Iskandar

Zikrullâh (mengingat Allah) adalah amalan yang paling utama di sisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutama-annya) (QS al-Ankabut: 45).

Rasulullah SAW. juga pernah bersabda, "Maukah aku kabari kalian dengan suatu amal yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian, yang paling meninggikan derajat kalian di sisi-Nya…?" "Tentu saja," jawab para Sahabat. Beliau lalu berkata, "Zikrullâh (mengingat Allah)." (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibn Majah).


Terkait dengan hadis ini, Syaikh Zakaria al-Kandahlawi dalam Fadhâ'il al-A'mâl, menjelaskan bahwa keutamaan zikir ini berdasarkan keadaan umum. Sebab, dalam keadaan tertentu jihad, sedekah dan sebagaimna dipandang lebih utama.

Masalahnya, apa yang dimaksud dengan zikrullâh (mengingat Allah)? Para ulama setidaknya membagi zikrullâh menjadi tiga bagian. Pertama: zikir dengan lisan, yakni dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah seperti istigfar, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dll. Dalam hal ini, Rasulullah SAW., misalnya, bersabda, "Zikir yang paling utama adalah mengucapkan Lâ ilâha illâ Allâh." (HR At-Tirmdizi, Ibn Majah dan Ahmad).

Kedua: zikir dengan kalbu (hati, akal), yakni dengan senantiasa memperbanyak tafakur (berpikir), murâqabah (merenung), dan muhâsabah (introspeksi diri). Di antara bagian dari tafakur adalah rajin meng-hadiri majelis-majelis ilmu, terutama ilmu-ilmu yang terkait dengan masalah fikih/syariah (halal-haram). Dalam hal ini, Rasulullah SAW., bersabda, "Jika kalian melewati taman-taman surga, maka berhentilah dan masuklah ke dalamnya." Para Sahabat bertanya, "Apakah taman-taman surga itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Majelis-majelis zikir." (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Para Sahabat Nabi SAW. ternyata memahami majelis zikir dalam hadis di atas sebagai majelis ilmu, yakni majelis yang membahas halal-haram, atau majelis yang membahas ihwal hukum-hukum syariah. Ini tentu bisa dipahami, karena dengan memahami halal-haram, setiap Muslim berpotensi untuk senantiasa terikat dengan hukum-hukum syariah dalam seluruh ucapan dan tindakannya. Ini sekaligus merupakan bentuk zikir yang ketiga: zikir dengan perbuatan. Inilah zikir yang paling utama. Mengapa? Sebab, zikir dengan lisan dengan memperbanyak melafalkan kalimat-kalimat thayyibah termasuk ibadah sunnah saja. Zikir dengan kalbu, misalnya, dengan banyak menghadiri majelis ilmu adalah bagian dari thalab al-'ilmi, yang memang hukumnya wajib. Namun, tentu ini tidak akan banyak berarti saat ilmu yang didapat tidak diamalkan dalam kehidupan. Bahkan jika ilmu dipelajari sekadar untuk bersaing dengan para ulama, atau untuk memper-daya orang-orang bodoh, dan tidak untuk diamalkan, justru hal ini hanya akan mengundang azab Allah SWT. Rasulullah SAW. pernah bersabda, "Siapa saja yang mencari ilmu demi bersaing dengan para ulama, memperdaya orang-orang bodah, atau mencari perhatian manusia, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam neraka." (HR at-Tirmidzi).

Adapun zikir dengan perbuatan, yakni dengan selalu mengikatkan ucapan dan tindakan pada hukum-hukum Allah SWT, menunjukkan bahwa pelakunya, selain telah mempelajari dan memahami hukum-hukum Allah, juga berarti telah melakukan amal yang baik (hasan al-amal). Amal yang baik inilah sesungguh-nya yang akan dinilai oleh Allah SWT, bukan semata-mata ilmunya. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman (yang artinya): Dialah Allah Yang telah menciptakan kematian dan klehidupan dalam rangka menguji manusia siapa yang terbaik amalnya (QS al-Mulk: 2).

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, frasa ahsan al-'amalâ di antara-nya dimaknai dengan, "yang paling menahan diri dari hal-hal yang haram dan paling bersegera dalam menjalankan ketaatan."

Mudah-mudahan kita semuanya mampu selalu mengingat Allah (zikrullâh), baik dengan lisan, dengan kalbu, dan terutama dengan perbuatan. Jangan sampai lisan kita selalu basah dengan kalimat-kalimat thayyibah, kalbu (hati, akal) kita penuh dengan pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, tetapi tindakan kita malah cerminan dari tindakan melupakan-Nya. Tentu tidak baik orang yang rajin menghadiri majelis-majelis zikir yang di dalamnya ia memper-banyak ucapan kalimat-kalimat thayyibah, bahkan dengan isak tangis penuh khusyuk, tetapi setelah keluar dari majelis-majelis itu dia pun tetap gemar meng-hadiri 'majelis-majelis' maksiat kepada Allah: tetap membuka aurat di hadapan khalayak, melakukan korupsi, membo-hongi dan menzalimi rakyat, tidak berlaku amanah, abai terhadap masalah-masalah yang menimpa umat, tetap menolak syariah-Nya untuk diterapkan dalam negara, dll. Semoga kita tidak seperti mereka. Wa mâ tawfîqî illâ billâh.[]

»»  read more

Senin, 29 Juni 2009

Ringan Berinfak

Oleh M Rahmat Kurnia |

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sahal ra menuturkan tentang Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari kain wool berwarna hitam dipadu warna putih di bagian sisi-sisinya. Lalu, beliau pun keluar menuju para sahabat seraya berkata: ”Wahai sahabatku, betapa bagusnya kain ini!” Seorang Arab Badui datang menghampiri beliau sambil menyatakan, ”Hadiahkanlah kain itu kepadaku, wahai Rasulullah.” Seperti diketahui, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang. Tidaklah mengherankan bila kekasih Allah SWT itu segera menjawab, ”Ya, ambillah.” Kemudian jubah yang beliau sukai itupun diberikannya kepada lelaki Arab tadi. Beliau lantas meminta baju biasa untuk dikenakan. Setelah itu beliau menyulam baju sebagaimana kain yang dikenakannya tadi. Rasulullah pun wafat dengan mengenakan baju yang disulam tersebut (Kanzul Ummal, Juz IV, halaman 42). Subhanallah, begitu indah teladan yang beliau berikan.

Sikap dan perilaku ini ditanamkan kepada para sahabat. Tidaklah mengherankan bila para sahabat saat menggenggam harta, sedikit maupun banyak, laksana menggenggam tanah. Mereka tidak sayang untuk mengeluarkannya. Tak berpikir panjang untuk menginfakkannya di jalan Allah SWT. Betapa banyak contoh yang dapat dipetik dari para sahabat tentang hal tersebut.


Hudzaifah bin Yaman ra mengisahkan gampangnya Utsman bin Affan berinfak. Suatu waktu Nabi Muhammad SAW mengirim utusan kepada Utsman bin Affan agar ia dapat membantu pasukan al-'usrah. Tanpa berpikir dua kali, Utsman menyerahkan uang senilai sepuluh ribu dinar melalui utusan tersebut. Saat Rasulullah Muhammad SAW menerima dana tersebut, beliau mendoakan Utsman: ”Semoga Allah mengampunimu, wahai Utsman, baik kesalahan-kesalahanmu yang dirahasiakan, yang tersembunyi maupun yang nampak terlihat. Semoga ampunan itu terus hingga hari Kiamat. Tidak ada perbuatan yang lebih baik lagi dari ini setelahnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adi, Daruquthni, Abu Nu'aim, dan Ibnu Asakir; al-Muntakhab, Juz V, halaman 12). Pada masa kini, jumlah sepuluh ribu dinar kira-kira setara dengan 42,5 kilogram emas. Bila harga 1 gram emas Rp 200.000 berarti Utsman menginfakkan hartanya untuk Islam sebesar Rp 8,5 milyar. Dana sebesar itu tanpa perlu pikir-pikir dahulu.


Pernah Ibnu Umar sakit. Ia ingin sekali makan anggur. Dibelikanlah ia setandan anggur seharga satu dirham (sekitar 1/12 dinar atau Rp17.000). Namun, datanglah seorang miskin mengemis. Apa yang beliau lakukan? Beliau memerintahkan agar anggur itu diberikan kepada orang miskin tadi. Hal ini berulang hingga tiga atau empat kali. Hingga akhirnya Ibnu Umar pun makan anggur (al-Hilyah, Juz I, halaman 297; al-Ishabah, Juz II, halaman 248). Sungguh mulia pemandangan ini. Harta yang diinfakkan bukan berarti harus selalu besar. Siapapun dapat melakukannya.


Rupanya, para sahabat banyak yang secara sengaja menyisihkan dari penghasilannya untuk bersedekah/berinfak. Ibnu Sa'ad menceritakan dari Nu'man bin Humaid ra yang berkata: ”Aku bersama dengan pamanku pernah berkunjung ke rumah Salman al-Farisi di daerah Madain. Ia menganyam daun kurma”. Salman pun menjelaskan, ”Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Lalu, aku anyam dan kujual seharga tiga dirham. Satu dirham untuk modal, satu dirham untuk keluargaku, dan satu dirham sisanya untuk aku sedekahkan. Andai saja Umar bin Khathab ra melarangku untuk melakukan ini, niscaya aku tidak akan berhenti melakukannya” (Ibnu Sa'ad, Juz IV, halaman 64). Sudahkah kita meniru sahabat Nabi Salman al-Farisi?


Semua mereka lakukan bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Apalagi untuk kepentingan politis. Mereka menunaikan segalanya hanya demi Allah SWT dan demi meraih surga-Nya. Sikap Utsman merupakan gambaran hal tersebut. Ketika kaum Muhajirin sampai ke Madinah, mereka tidak cocok dengan air minum yang ada di sana, kecuali air yang berasal dari sumur Rauma, milik seorang suku Ghifar. Rasulullah berkata, ”Juallah sumur itu kepadaku dengan mata air surga!” Namun, orang itu enggan melakukannya karena itu satu-satunya sumber kehidupannya. Berita tersebut sampai kepada Utsman. Beliaupun membeli sumur tersebut. Lalu, ia mendatangi Nabi seraya berkata, ”Wahai, Rasulullah, apakah engkau tetap memberikan kepadaku mata air di surga sebagaimana yang pernah engkau katakan kepadanya jika aku menjualnya?” Rasul menjawab, ”Ya.” Utsman pun berkata, 'Aku telah membeli sumur itu, dan aku berikan kepada kaum Muslim' (al-Muntakhab, Juz V, halaman 11).


Sebagaimana pada masa Rasulullah SAW, kini pun kaum Muslim dan dakwah Islam membutuhkan dukungan. Bukan hanya orang, tapi juga dana. Sudahkah kita sebagai umat Muhammad SAW meniru perilaku beliau dan para sahabat dalam berinfak di jalan Allah SWT? Ataukah, harta diinfakkan hanya pada saat ada kepentingan pribadi? Ingatlah, Allah SWT telah membeli jiwa dan harta kita untuk dibalas oleh-Nya dengan surga (QS. At-Taubah ayat 111). Kini, saatnya ringan berinfak di jalan Allah Rabbul 'Alamin.[] www.mediaumat.com
»»  read more

Berlomba ke Neraka

Oleh : Arief B. Iskandar|

Inna lillâhi wa inna iIayhi râji'ûn. Dengan ekspresi sedih, kata-kata itulah yang meluncur dari bibir Umar bin Abdul Aziz sesaat beliau dibaiat menjadi khalifah (kepala Negara Islam).

Sebelumnya, Umar memang sudah berusaha keras menolak untuk diangkat menjadi Khalifah. Namun, umat tampaknya lebih keras lagi 'memaksa' agar beliau bersedia menjadi Khalifah. Lalu terjadilah pembaiatan itu. Akhirnya, dengan ikhlas dan ridha, Umar menerima baiat umat. Namun, hal itu tidak membuat beliau tenang. Kegelisahan di dada ia bawa saat pulang ke rumahnya. Ia mengurung di kamarnya. Ia menangis. Dalam benaknya terbayang, jutaan rakyatnya siap menuntutnya di hadapan Pengadilan Allah pada Hari Kiamat nanti jika ia tidak bisa melayani, mengayomi dan melindungi mereka. Karena itulah, bagi beliau, amanah kekuasaan yang baru saja beliau terima adalah 'musibah besar'. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyadari betul sabda Baginda Nabi saw., “Sesungguhnya kekuasaan itu amanah. Pada Hari Kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang diamanahkan di dalamnya.” (HR Muslim).

*****

Dalam Islam, kekuasaan tentu bukan sesuatu yang haram. Bahkan hanya dengan kekuasaanlah Islam di muka bumi ini bisa benar-benar tegak, hukum-hukum Allah bisa kokoh berdiri, umat Islam bisa terlindungi dari ancaman musuh dan risalah Islam bisa tersebar luas dengan dakwah dan jihad. Dengan kekuasaan pula Islam sebagai rahmatan lil 'alamin betul-betul bisa terwujud. Itulah realitas yang benar-benar terjadi saat kekuasaan itu berada di tangan orang-orang salih, zuhud, wara' dan amanah seperti halnya Umar bin Abdul Aziz, atau generasi yang lebih awal, yakni Khulafaur Rasyidin.

Namun demikian, selama penguasa adalah manusia, bukan nabi, mereka berpotensi keliru dan menyimpang dalam menjalankan amanah kekuasaannya. Inilah yang senantiasa 'menghantui' generasi salafush-shalih sehingga sejauh mungkin mereka akan menolak jika diberi amanah kekuasaan. Jika pada akhirnya mereka 'dipaksa' harus menerima beban amanah kekuasaan, mereka begitu takut dihisab oleh Allah SWT pada Hari Akhirat nanti jika mereka tidak amanah. Inilah yang tergambar dari ucapan terkenal Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., “Seandainya ada seekor keledai terperosok di Kota Bagdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir Allah SWT akan meminta tanggung jawabku di Akhirat nanti.”

Inilah pula yang tergambar dari sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat beliau 'ditegur' oleh putranya, “Ayah, bagaimana jika ada rakyat Ayah yang begitu membutuhkan Ayah, sementara Ayah sedang duduk beristirahat di rumah?”

Seketika Khalifah Umar sadar, lalu bangkit dan kembali bekerja melayani rakyat. Padahal Khalifah Umar baru beberapa menit saja melepaskan penat. Keringat pun masih membasahi tubuhnya karena setiap hari hampir sebagian besar waktunya habis untuk mengurus dan melayani rakyatnya.

Jangan lupa, sikap dan perilaku para penguasa Muslim yang luar biasa seperti itu adalah saat negara benar-benar menerapkan syariah Islam secara total dalam institusi Khilafah Islamiyah. Artinya, selama mereka 'lurus-lurus' saja dan benar-benar menerapkan syariah itu secara benar, kekhawatiran untuk tidak amanah atau berlaku lalim terhadap rakyat seharusnya tidak perlu terjadi.

*****

Jika generasi salafush-shalih begitu khawatir dan takut menjadi penguasa, manusia-manusia zaman sekarang justru berlomba-lomba meraihnya. Dengan segala cara, meski harus menghamburkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah, mereka berusaha mewujudkan mimpinya; entah menjadi presiden/wapres, sekadar menjadi kepala daerah, ataupun menjadi wakil rakyat. Dalam hal ini, 'keberanian' mereka mengalahkan 'keberanian' Khalifah Umar bin al-Khaththab atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak! Keduanya, saat menjabat sebagai khalifah, begitu takutnya terhadap hisab Allah pada Hari Akhir nanti atas kepemimpinannya di dunia. Sebaliknya, manusia-manusia zaman sekarang yang sangat ambisi kekuasaan, begitu beraninya 'menantang' hisab Allah SWT.

Saat mereka berhasil menjadi penguasa, kepala daerah atau wakil rakyat, bukan kegelisahan dan isak tangis yang mereka tunjukkan (sebagaimana yang ditunjukkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz), namun kegembiraan dan rasa syukur. Jika demikian, sesungguhnya mereka tidak sedang bersyukur, tetapi sedang ber-'sukur' (sukr, b. arab; mabuk). Ya, mereka sedang 'mabuk kekuasaan'. Mereka lupa bahwa dengan kekuasaan, jabatan atau posisi sebagai wakil rakyat yang mereka raih dalam sistem sekular yang tidak menerapkan hukum-hukum Allah itu, mereka sebetulnya sedang berjalan menuju ke neraka; mereka sedang berlomba masuk ke dalamnya. Wal 'iyâdz billâh![] mediaumat.com

»»  read more

Followers